Thursday, April 07, 2005

 

Fathiya, kenapa?

Perlahan-lahan kegelapan itu menyelimutiku.
Entah sejak kapan, entah kenapa.
Dalam kegelapan ini aku coba meraba dengan penuh kepayahan.
bukan tombol kecil penyala lampu yang kutemukan tapi ngilu dan sakit kurasakan.
Tak hentinya benda-benda kuhantam karena aku tak bisa melihat tanpa cahaya.
aku tak bisa melihat tanpa cahaya..bangsat !!
bukan tombol kecil penyala lampu yang kutemukan tapi ngilu dan sakit kurasakan.

Kucoba setengah mati untuk melihat dalam kegelapan
tapi kegelapan tak mau berubah menjadi terang
dalam keheningan ia mengejekku "kau tidak akan bisa menembusku"
Kubalas ejekan itu dengan rasio paling masuk akal dan aku bertanya,
"mengapa kau senang menggelayutiku, senangkah kau melihat ku buta?"


"Kau lupa kegelapan tidak perduli pada mahluk yang diliputinya?!"
"Kau tak beda dengan kampret, maupun cecak"
Lalu keluarlah tawa dingin itu,
seakan hitam berubah menjadi tatapan
berkerut dan melihat si buta dengan penuh rasa kasihan
berkerut dan melihat si buta dengan penuh hinaan.


"Tidak!, kau belum mengerti aku, karena itu kau melakukan hal yang tidak ingin kau lakukan"
Si Buta berteriak dengan penuh amarah berusaha mempertahankan sejengkal kewarasan dalam kegelapan
"Kau gelap hanyalah ilusi dalam kepalaku, kau ada karena aku pikir kau ada!"
"Kau tidak punya kuasa atas kebebasanku!"


Desis bengis itu kembali terdengar
"Kebebasan ?! Sadarkah kamu wahai buta akulah pengekangan!"
"Dan kau buta kaulah yang menaruh pasung kegelapan ini di kakimu"
Buta perlahan lunglai dan merapat lambat-lambat ke dinding dingin di belakangnya
"Kutanya kau buta dengan segala akalmu, bila aku tidak ada, pernahkah kau tahu apa itu cahaya?"
"Kutanya kau buta dengan segala akalmu, bukankah dirimu yang memaksa kegelapan ini menutupmu?
Terdiam si buta jatuh dalam kegelapan,


perlahan...


perlahan..


dengan susah ia membuka mulut...


Fathiya...


Tolonglah bawakan aku cahaya..


-Surat Hanif kepada Fathiya-




Hanif....




Tenanglah sayangku, aku telah datang.

pelukan hangatku hanya untukmu
Menunggumu....



















di kegelapan
-Surat Fathiya kepada Hanif-

This page is powered by Blogger. Isn't yours?