Monday, February 21, 2005
Pacet Tera et Hominibus
Ada sebuah relasi yang menarik antara desosialisasi suatu hubungan dengan kuantitas dan kualitas yang dicurahkan dalam hubungan tersebut. Untuk mengerti relasi ini pertama-tama kita harus melihat basis pemikiran yang mendasarinya, dari segi manusia sebagai mahluk individu maupun dari segi manusia sebagai mahluk kolektif.
Manusia terlepas dari konteks konformitasnya, adalah individu yang – kalau boleh disebut secara metaforik – selalu berusaha bergravitasi ke arah cahaya. Dalam jalan apapun dan dengan cara apapun manusia selalu berusaha memenuhi kebutuhannya dan mengarah ke perbaikan, baik secara psikologis, kognitif, maupun fisiologis.
Dapat dikatakan, sebenarnya selalu ada “udang di balik batu” dalam setiap perbuatan kita. Selalu ada motif yang mendasari setiap perilaku baik kita menyadarinya, tidak menyadarinya, atau menolak mengakuinya.
Secara individual, manusia adalah mahluk adaptif yang berusaha bertahan, kita bekerja, berdagang, merampok, semuanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan untuk terus dapat bertahan satu hari lagi.
Tindakan altruis apapun yang kita lakukan pada dasarnya mempunyai keuntungan bagi kita, baik itu berupa pengembangan modal sosial maupun penciutan liabilitas kolektif.
Sebagai contoh, ketika kita mencintai seseorang dengan sepenuh hati, apakah betul kita tidak mengharapkan timbal balik darinya? Bila seseorang mengatakan bahwa ia akan mencintai seseorang secinta-cintanya dan berkorban segalanya unutk mendapatkan cintanya namun tidak mendapatkan balasan, apkah betul ia telah melakukan apa yang banyak seniman bilang “cinta sejati”? Ketika cintanya ditolak, kemudian ia beralasan ini semua demi kebahagiaannya, apkah ini bisa disebut cinta? Lalu mengapa masih ada sakit hati? Tidak!, tidak ada cinta di dunia ini yang ada hanya altruisme. Ketidaksamaan kepentingan dan rendahnya kualitas dan kuantitas waktu yang dicurahkan selalu mengarah kepada desosialisasi hubungan. Artinya apa? There is no such thing as love at first sight.
Kedekatan parameter antar individu menjadi sangat signifikan dalam tujuan unntuk mengembangkan potensi hubungan yang berlandaskan altruisme murni.
Jika memang tidak ada cinta di dunia ini lalu bagaimana masyarakat dapat berevolusi ke arah perbaikan? Pengupayaan “kebersamaan kepentingan” atas dasar kebaikan bersama dapat menjadi dasar kesejahteraan, hingga bukan tidak mustahil “pacet tera et hominibus” –damai di bumi, sejahtera manusia- tercapai diatas muka bumi.
Manusia terlepas dari konteks konformitasnya, adalah individu yang – kalau boleh disebut secara metaforik – selalu berusaha bergravitasi ke arah cahaya. Dalam jalan apapun dan dengan cara apapun manusia selalu berusaha memenuhi kebutuhannya dan mengarah ke perbaikan, baik secara psikologis, kognitif, maupun fisiologis.
Dapat dikatakan, sebenarnya selalu ada “udang di balik batu” dalam setiap perbuatan kita. Selalu ada motif yang mendasari setiap perilaku baik kita menyadarinya, tidak menyadarinya, atau menolak mengakuinya.
Secara individual, manusia adalah mahluk adaptif yang berusaha bertahan, kita bekerja, berdagang, merampok, semuanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan untuk terus dapat bertahan satu hari lagi.
Tindakan altruis apapun yang kita lakukan pada dasarnya mempunyai keuntungan bagi kita, baik itu berupa pengembangan modal sosial maupun penciutan liabilitas kolektif.
Sebagai contoh, ketika kita mencintai seseorang dengan sepenuh hati, apakah betul kita tidak mengharapkan timbal balik darinya? Bila seseorang mengatakan bahwa ia akan mencintai seseorang secinta-cintanya dan berkorban segalanya unutk mendapatkan cintanya namun tidak mendapatkan balasan, apkah betul ia telah melakukan apa yang banyak seniman bilang “cinta sejati”? Ketika cintanya ditolak, kemudian ia beralasan ini semua demi kebahagiaannya, apkah ini bisa disebut cinta? Lalu mengapa masih ada sakit hati? Tidak!, tidak ada cinta di dunia ini yang ada hanya altruisme. Ketidaksamaan kepentingan dan rendahnya kualitas dan kuantitas waktu yang dicurahkan selalu mengarah kepada desosialisasi hubungan. Artinya apa? There is no such thing as love at first sight.
Kedekatan parameter antar individu menjadi sangat signifikan dalam tujuan unntuk mengembangkan potensi hubungan yang berlandaskan altruisme murni.
Jika memang tidak ada cinta di dunia ini lalu bagaimana masyarakat dapat berevolusi ke arah perbaikan? Pengupayaan “kebersamaan kepentingan” atas dasar kebaikan bersama dapat menjadi dasar kesejahteraan, hingga bukan tidak mustahil “pacet tera et hominibus” –damai di bumi, sejahtera manusia- tercapai diatas muka bumi.