Monday, February 21, 2005
Kala Timbangan Berat Sebelah
Yang namanya keadilan, memang menjadi barang mahal di negeri ini. Tengok saja sepak terjang the so called “penegak keadilan” di negeri ini, jauh dari terhormat. Namun akan menjadi sebuah kepandiran dan ketidakadilan apabila mengatakan seluruh individu pengak hukum diatas bumi pertiwi ini brengsek. Tidak, tidak secara keseluruhan. Tapi sebagian besar memang acapkali berperilaku merendahkan hukum yang seharusnya ia tegakkan. Dari sogok menyogok tilang, membeking bandar judi dan peredaran miras, mafia peradilan, hingga tembak menembak antar korps. Semua hal itu menambah kelam catatan buram keadilan di Indonesia.
Apa sih sebenarnya adil? Adil, adalah ketika yang hak adalah hak dan yang batil adalah batil. Dibedah secara mendalam, keadilan adalah prinsip dasar dalam harmonisasi kehidupan. Keadilan adalah kuasa Tuhan atas berjalannya proses semesta, hukum-hukum yang mengatur berjalannya alam semesta pun adalah suatu bentuk transenden dari keadilan.
Sebagai contoh, mengapa benda-benda selalu jatuh tertarik hukum gravitasi ? Karena itu adalah suatu bentuk keadilan dari Tuhan. Coba bayangkan apabila hukum gravitasi tak berlaku bagi para petani. Biji-bijian dan bakal bunga yang ditanam pun tak ayal akan melayang-layang diudara. Seandainya bata yang disusun kuli batu tidak menapak tanah, tentu bangunannya tak akan kunjung rampung, tak adil bagi manusia tentunya.
Rotasi bumi pun suatu bentuk keadilan dari Tuhan, andai bumi tidak berputar pada porosnya, kita yang hidup di belahan timur mungkin tak akan pernah merasakan syahdunya sinar bulan, begitu juga dengan mereka yang menghuni bumi bagian barat mereka tak akan pernah merasakan segarnya mentari yang terbit. Tak adil bagi manusia tentunya.
Artinya adalah suatu bencana besar apabila kita berani mengutak-atik tiang keadilan, itu sama saja artinya dengan melawan hukum Tuhan. Tukang buah yang mencurangi timbangannya berarti melawan harmonisasi hukum alam yang ditetapkan Tuhan. Timbangan yang seimbang karena hukum gravitasi, diatur oleh si penjual agar berat sebelah walau tak tampak. Itu artinya ia baru saja melanggar hukum alam yang digariskan Tuhan. Itu baru mencurangi timbangan apalagi dengan korupsi, fitnah, atau pemimpin yang zalim.
Jadi jangan heran kalau bumi Indonesia tercinta ini ditimpa kesulitan dan durjana, karena manusia-manusianya gandrung sekali megutak-atik hukum keadilan. Sekarang bisa kita pahami mengapa orang-orang yang jujur terlihat begitu tenang dan wajahnya begitu damai walau cobaan menimpa mereka, karena disadari atau tidak mereka hidup dalam harmonisasi alam yang tertransenden dalam keadilan yang dijabarkan Tuhan.
Sesungguhnya engkau bukanlah termasuk orang-orang yang berfikir.
Apa sih sebenarnya adil? Adil, adalah ketika yang hak adalah hak dan yang batil adalah batil. Dibedah secara mendalam, keadilan adalah prinsip dasar dalam harmonisasi kehidupan. Keadilan adalah kuasa Tuhan atas berjalannya proses semesta, hukum-hukum yang mengatur berjalannya alam semesta pun adalah suatu bentuk transenden dari keadilan.
Sebagai contoh, mengapa benda-benda selalu jatuh tertarik hukum gravitasi ? Karena itu adalah suatu bentuk keadilan dari Tuhan. Coba bayangkan apabila hukum gravitasi tak berlaku bagi para petani. Biji-bijian dan bakal bunga yang ditanam pun tak ayal akan melayang-layang diudara. Seandainya bata yang disusun kuli batu tidak menapak tanah, tentu bangunannya tak akan kunjung rampung, tak adil bagi manusia tentunya.
Rotasi bumi pun suatu bentuk keadilan dari Tuhan, andai bumi tidak berputar pada porosnya, kita yang hidup di belahan timur mungkin tak akan pernah merasakan syahdunya sinar bulan, begitu juga dengan mereka yang menghuni bumi bagian barat mereka tak akan pernah merasakan segarnya mentari yang terbit. Tak adil bagi manusia tentunya.
Artinya adalah suatu bencana besar apabila kita berani mengutak-atik tiang keadilan, itu sama saja artinya dengan melawan hukum Tuhan. Tukang buah yang mencurangi timbangannya berarti melawan harmonisasi hukum alam yang ditetapkan Tuhan. Timbangan yang seimbang karena hukum gravitasi, diatur oleh si penjual agar berat sebelah walau tak tampak. Itu artinya ia baru saja melanggar hukum alam yang digariskan Tuhan. Itu baru mencurangi timbangan apalagi dengan korupsi, fitnah, atau pemimpin yang zalim.
Jadi jangan heran kalau bumi Indonesia tercinta ini ditimpa kesulitan dan durjana, karena manusia-manusianya gandrung sekali megutak-atik hukum keadilan. Sekarang bisa kita pahami mengapa orang-orang yang jujur terlihat begitu tenang dan wajahnya begitu damai walau cobaan menimpa mereka, karena disadari atau tidak mereka hidup dalam harmonisasi alam yang tertransenden dalam keadilan yang dijabarkan Tuhan.
Sesungguhnya engkau bukanlah termasuk orang-orang yang berfikir.
Comments:
<< Home
Diperlukan sebuah tindakan radikal untuk memebrsihkan dan menggembosi mafia peradilan di negeri ini. Demikan Denny Indrayana di Tempo Interactive, dan saya sangat setuju!
Post a Comment
<< Home
