Monday, February 21, 2005

 

Aku Mati Nanti Pagi

Tengah malam telah berlalu jelas terlihat, dua belas kali jam dinding tua itu bergetar jelas terlewat. Tapi malam masih panjang, setidaknya bagi orang-orang di sini. Ada nuansa tersendiri dari tempat ini, meja-meja kayu yang berderik lembut setiap kali pengendaranya menjuntaikan kaki menapak tanah, gemerincing lembut suara musik mengalir, tertawa renyah pengunjung mengundang mata untuk melirik mahluk mana yang bisa bersuara begitu bebas dan lepas seakan tiada beban.
Terduduk aku di salah satu meja kotak. Dengan ringan aku tolehkan pandangan kesekitar, hanya keceriaan yang terpampang, menyiratkan kesenangan malam yang seakan enggan menatap bangkitnya matahari. Ada sepasang penganut cinta bersenda gurau di pojok sana. Tersenyum riang saling menatap bola mata hitam. “Oh, cinta alangkah indahnya dikau, hinggap di hati membuai dunia menjalin jiwa” bisik pemuda ke sukma sang bidua.
Oh celaka !!, andai saja mereka tahu dunia bisa begitu kejam dan cinta bisa begitu berbisa.
Sekali lagi kutolehkan mataku. Tiga hasta dari sana aku melihat cermin tua yang tergantung di dinding renta. Aku lihat sebuah bayangan penuh kecemasan, keputusasaan, dan kepedihan. Tersentak aku hampir terjatuh dari kursi merah jambu ini, terhenyak aku hampir tersedak oleh angin kering yang tiba saja menghembus. Kutelaah, ku gelengkan kepala, ku sadar, yang terpamapang disana adalah wajahku.
Tersenyum dingin, aku menatap muka kaku itu. Entah bagaimana aku harus bersikap, hanya caling gigi yang meranggas yang bisa aku lihat dari potret itu. Hanya satu yang bisa kupikirkan, Aku mati nanti pagi!
Aku tahu hari pasti berhenti, aku pun tak peduli, biar mati seribu kali hanya tembok renta ini yang sudi mengingatku.
Kutarik napas dalam-dalam, kusadari hanya malam ini yang memberikan imaji terakhir dari repertoire hidupku yang menyedihkan. Aku palingkan sekali lagi pandanganku ke muka-muka ceria itu, sekali lagi aku mendengar tertawa renyah yang bersuara begitu bebas dan lepas seakan tiada beban.
Kutarik bola mataku ke sebuah bayangan yang seakan ku kenal, penuh misteri kutatap lebih dalam klise itu. Berdegup keras jantungku, aku sadar betul bayangan itu adalah salah satu hal yang paling aku takuti dari hidupku. Tersembul selangkah dari kegelapan ia mendekatiku, gemeletuk rahangku dan peluh dingin yang mengucur di belakang leherku tak berhenti walau ku coba. Setelah sadar apa yang terjadi, bayangan itu telah tampak dalam bentuknya sempurna hanya satu langkah dari tempatku, darahku bergelagak hingga ubun-ubun. Dengan berat, aku tengadahkan kepalaku keatas, kulihat wajah itu sekarang, ya betul, wajah yang dapat membuat sukmaku bergetar ketika menatapnya.
Wajah itu, adalah wajah cintaku yang tak terbalas.
Tersenyum dia begitu lembut. Mendamaikan gejolak tak henti dalam hatiku. Oh, andaikan ada metafor yang cukup indah untuk melukiskan dirinya, takkan habis aku mengulangnya, namun sayang tak ada kalimat penyair yang cukup untuk menggambarkan dirinya.

Dengan ketenangan dia menyentuh wajahku dengan kasih sayang ia mendekatkan kedua bibir itu kearahku, ia mengecupku!
Setan alas ! Mengapa semua ini harus terjadi sekarang setelah semua kebodohan yang telah aku lakukan. Dia berkata, “Bagaimana kalau satu kali lagi ?”
Sial, padahal aku tahu aku mati nanti pagi……
Comments: Post a Comment

<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?